Kepemimpinan gereja sangatlah menentukan pertumbuhan rohani sebuah gereja! Bersama dengan pastors, mereka yang dipilih ini akan menentukan akan menjadi seperti apa gereja di bawah kepemimpinan mereka. Maka salah satu ‘biggest events’, khususnya dalam kehidupan gereja yang bercorak Presbiterian, adalah pemilihan majelis.
Penatua/diaken/penilik jemaat (saya tidak akan membedakan tiga istilah itu di sini), sangatlah penting bagi rasul Paulus. Maka dia memberikan kriteria untuk menetapkan siapa yang boleh memegang jabatan itu dan dia mengangkat mereka di gereja-gereja yang dia dirikan.
Benarlah perkataan ini: "Orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah." 2 Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang, 3 bukan peminum, bukan pemarah melainkan peramah, pendamai, bukan hamba uang, 4 seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. 5 Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah? 6 Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman Iblis. 7 Hendaklah ia juga mempunyai nama baik di luar jemaat, agar jangan ia digugat orang dan jatuh ke dalam jerat Iblis. 8 Demikian juga diaken-diaken haruslah orang terhormat, jangan bercabang lidah, jangan penggemar anggur, jangan serakah, 9 melainkan orang yang memelihara rahasia iman dalam hati nurani yang suci. 10 Mereka juga harus diuji dahulu, baru ditetapkan dalam pelayanan itu setelah ternyata mereka tak bercacat. 11 Demikian pula isteri-isteri hendaklah orang terhormat, jangan pemfitnah, hendaklah dapat menahan diri dan dapat dipercayai dalam segala hal. 12 Diaken haruslah suami dari satu isteri dan mengurus anak-anaknya dan keluarganya dengan baik. 13 Karena mereka yang melayani dengan baik beroleh kedudukan yang baik sehingga dalam iman kepada Kristus Yesus mereka dapat bersaksi dengan leluasa. (1 Timotius 3:1-13)
Aku telah meninggalkan engkau di Kreta dengan maksud ini, supaya engkau mengatur apa yang masih perlu diatur dan supaya engkau menetapkan penatua-penatua di setiap kota, seperti yang telah kupesankan kepadamu, 6 yakni orang-orang yang tak bercacat, yang mempunyai hanya satu isteri, yang anak-anaknya hidup beriman dan tidak dapat dituduh karena hidup tidak senonoh atau hidup tidak tertib. 7 Sebab sebagai pengatur rumah Allah seorang penilik jemaat harus tidak bercacat, tidak angkuh, bukan pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah, 8 melainkan suka memberi tumpangan, suka akan yang baik, bijaksana, adil, saleh, dapat menguasai diri 9 dan berpegang kepada perkataan yang benar, yang sesuai dengan ajaran yang sehat, supaya ia sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran itu dan sanggup meyakinkan penentang-penentangnya. (Titus 1:5-9)
Berikut adalah ringkasan kriteria penting yang diberikan Paulus (saya mengambil beberapa hal dari tulisan J. Hampton Keathley, III dihttps://bible.org/article/qualifications-evaluation-elders-and-deacons):
Secara Umum
Paulus berkata mereka haruslah “orang yang tak bercacat” (1 Tim 3:2 dan Ti 1:7). Bukan berarti sempurna dan tanpa kekurangan – karena tidak ada manusia yang sempurna, tetapi kehidupannya begitu rupa sehingga tidak ada orang yang bisa menuduh dia berkelakuan tidak sebagai orang Kristen yang dewasa. Bahkan ia “mempunyai nama baik di luar jemaat” (1 Tim 3:7), di kantornya, di teman-temannya, di lingkungannya.
Kepada Tuhan dan Firman-Nya
1. Dia bukan seorang yang baru bertobat (1 Tim 3:6). Artinya dia sudah mengenal Tuhan, mengerti pelayanan dan menunjukkan kemajuan dalam kedewasaan rohani. Alasannya adalah supaya dia tidak menjadi sombong dan kena jerat iblis.
2. Berpegang kepada perkataan yang benar… sanggup menasihati… sanggup meyakinkan penentang-penentang (Tit 1:9) dan memelihara rahasia iman dalam hati nurani yang suci (1 Tim 3:9). Apakah dia adalah murid Alkitab? Stabil di dalam iman dan berpegang pada pengajaran yang benar? Apakah dia mencintai dan mau tunduk kepada Firman Tuhan? Apakah dia mengenal Firman Tuhan sehingga bisa mengajarkannya kepada orang lain bahkan bisa menentang pengajaran yang salah?
Kepada Keluarga (Bagi wanita, implikasinya sama)
1. Suami dari satu istri (1 Tim 3:2 dan Ti 1:6). Bukan berarti dia harus punya istri dan juga bukan berarti dia harus hanya pernah menikah satu kali. Tetapi dia adalah orang yang setia kepada istrinya dan bukan playboy.
2. Kepala keluarga yang baik (1 Tim 3:4-5, 11 dan Ti 1:6). Artinya istrinya dan anak-anaknya juga menunjukkan hidup iman dan karakter yang baik. Istrinya terhormat, bukan pemfitnah, bisa menahan diri dan dipercaya.
Karakternya
1. Dapat menahan diri dan bijaksana (1 Tim 3:2 dan Ti 1:8). Apakah sehari-hari dia cenderung bereaksi sesuai dengan prinsip Alkitab? Apakah dia cenderung memuaskan hawa nafsu atau dikuasai oleh Roh Kudus? Apakah pola pikirnya sesuai Alkitab?
2. Bukan pemarah dan pemberang tetapi ramah dan pendamai (1 Tim 3:3 dan Ti 1:7). Apakah dia cepat marah dan suka bertengkar? Apakah dia stabil secara emosi? Apakah dia, biasanya karena perfeksionistis, tidak segan menimbulkan keributan untuk mendapatkan yang dia inginkan? Apakah dia mendorong orang melakukan sesuatu dengan memaksa dan kadang mem-bully secara verbal? Apakah dia mendekati masalah dengan lembut dan damai?
3. Tidak bercabang lidah (1 Tim 3:8). Dia tidak berkata A kepada seorang dan B kepada orang lain. Dia menjaga kredibilitasnya.
4. Tidak angkuh, bijaksana, sopan dan adil (1 Tim 3:2, Ti 1:7-8). Dia tidak sombong, menganggap diri lebih dari orang lain, dan bisa didekati. Dia bijaksana dalam keputusannya, tidak berlaku tidak adil kepada orang lain, dan sopan.
5. Suka akan yang baik (Ti 1:8). Dia suka dan ingin melakukan apa yang baik atau berguna. Dia menggunakan kesempatan untuk berbuat baik, untuk membangun dan bukan merusak.
6. Suka memberi tumpangan (1 Tim 3:7). Artinya dia mengasihi orang lain bahkan sampai membuka rumahnya untuk mereka yang membutuhkan. Ini menunjukkan bukan saja kemurahan hatinya, tetapi juga keramahannya, keterbukaannya, dan kerelaannya untuk membagi hidupnya.
Kepada Benda
1. Bukan hamba uang dan tidak serakah (1 Tim 3:3 dan Ti 1:7). Apakah dia jujur dalam bisnis-nya? Apakah dia mencari keuntungan dengan tidak mengorbankan siapapun – karyawan ataucustomer?
2. Bukan peminum (1 Tim 3:3 dan Ti 1:7). Apakah dia bebas dari kecanduan apapun yang bisa menguasai hidupnya?
Melihat kriteria-kriteria di atas, mungkin kita akan berpikir “lalu siapa yang bisa dipilih?” Kita bisa berdiri di dua ekstrim: Menetapkan kriteria-kriteria itu secara ketat (artinya mungkin tidak ada yang bisa dipilih) atau sebaliknya melupakan semua kriteria itu (tokh.. tidak ada orang yang sempurna). Saya kira kebanyakan gereja dan orang Kristen berada di posisi yang kedua, “Semua orang berdosa kok… Tuhan ampuni kok… semua orang punya kelemahan kok… sudah lah yang penting dia mau… beri kesempatan dong!”
Tetapi kriteria-kriteria di atas adalah tanda identifikasi dan konfirmasi. Walaupun tidak ada yang sempurna, tetapi orang itu harus memiliki tanda-tanda kriteria di atas, menunjukkan tingkat kedewasaan tertentu, dan sedang terus berjuang menjadi seperti itu. Singkatnya, orang itu harus menunjukkan karakter Kristen, kedewasaan rohani dan pertumbuhan dalam kesucian/kesalehan.
Perhatikan bahwa Paulus tidak bicara banyak soal kemampuan. Dia hanya menyebut soal “cakap mengajar orang” (1 Tim 3:2). Hanya itu. Tidak ada lagi soal berbagai karunia dan kemampuan lainnya. Betapa berbedanya ini dengan kriteria yang sekarang banyak dipakai oleh gereja ketika mengangkat majelis?! Kita memperhatikan kemampuannya tetapi Paulus sangat memperhatikan karakternya, kerohaniannya dan pertumbuhannya!
Ini adalah peringatan bagi kita yang seringkali memilih orang ke dalam pelayanan karena berbagai alasan (kurang orang, perlu orang yang begini dan begitu, memberi kesempatan, kaderisasi, dll..dll). Perhatikanlah dengan serius apa yang diperhatikan oleh Alkitab!
Saya mengingat khotbah seorang pendeta senior di Singapore. Dia berkata, “Kepemimpinan gereja terlalu penting untuk dipertaruhkan kepada orang-orang yang punya agenda pribadi, orang-orang yang punya waktu karena tidak punya kerjaan lain, dan orang-orang yang diragukan karakternya”. Terlalu penting!
Maka setiap gereja bertanggung jawab dalam memilih “calon majelis” yang kemudian disodorkan kepada jemaat untuk dipilih. Tanggung jawab itu harus berdasarkan kriteria Alkitab. Alangkah indahnya kalau sebelum menentukan calon majelis, mereka mempelajari dulu Alkitab dan berdoa! Alangkah indahnya jika semua "calon majelis" yang disodorkan kepada jemaat adalah biblically good persons, tinggal masalah siapa yang terpilih untuk saat itu.
Setiap jemaat juga bertanggung jawab dalam memilih “majelis”. Kesulitannya memang seringkali jemaat tidak mengenal “calon majelis” yang disodorkan untuk dipilih. Tetapi mari sebisa mungkin memilihlah dengan bijak. Jangan memilih hanya karena kenal, apalagi hanya karena sering melihat wajahnya! Jangan memilih hanya karena dia pria atau wanita. Jangan memilih dia karena daftar pelayanannya yang panjang. Jangan memilih dia hanya karena merasa orangnya aktif dan mau kerja. Cobalah cari informasi sebanyak mungkin, bicara dengan orang-orang yang pernah bekerja sama dengan dia. Ingat yang paling penting adalah: Karakternya, kerohaniannya, dan pertumbuhannya dalam kesucian. Berdoalah supaya Tuhan menolong jangan sampai salah pilih karena Tuhan memberi kesempatan kepadamu untuk menentukan kepemimpinan gereja – terlalu penting!